Monday, May 17, 2004

bersahaja

Hari ini seorang kawan mengisim pesan singkat melalui telepon genggam saya. isinya:
"Waktu menunggu bis di kampus, saya melihat pria sederhana yang berjalan pincang. Saya ingat siapa dia dan hanya bisa menyapa: Good Day Profesor SEN!"

dia Amartya Sen, pemenang Nobel Ekonomi 1998.

Kegembiraan kawan itu tentu saja bukan hanya karena melihat seorang 'besar' didepan wajahnya. Karena banyak sekali orang-orang 'besar' dimana-mana. Tapi melihat seorang 'besar' berpakaian sederhana?? tidak mudah dicari..

Saya lantas membalas pesan kawan itu dengan:
"Ya memang begitu kalau akademisi. Yang markirin BMW di tempat parkir yang tulisannya 'dosen' mah bukan akademisi, tapi pengusaha!"

Saya memang asal ngomong. Asal nulis. Tapi saya siap dimaki-maki. Juga oleh kawan-kawan dosen yang kebetulan punya BMW. Tentu bukan salah mereka kalau ternyata kawan dosen memang punya BMW. Siapa yang bisa menyalahkan? bukan begitu? BMW atau bis, bukankah satu pilihan?

Sen bukan satu-satunya. Masih banyak nama-nama besar yang saya kenal yang punya pilihan-pilihan yang menurut saya tidak lazim, mengingat ketenarannya. Katakan seorang Shinji Asanuma. Profesor yang saya kenal ini menggunakan kereta dari rumah menuju kampus tempatnya mengajar.

Lalu seorang Roy Bahl. Yang saya perhatikan pertama kali melihat profesor ini adalah gladstone bag yang ia pakai. Sudah sobek dikanan dan kirinya, bahkan ada sebuah tambalan selotip warna hitam menutupi tas kulit warna coklat nya.

Apakah jadi akademisi harus nge gembel? demikian pertanyaan teman saya kemudian saat saya berapi-api menceritakan profesor bertas sobek itu. saya sendiri kurang tahu, apakah memang seorang akademisi harus berpenampilan 'bersahaja'.

ntah memang sarana transportasi yang mendukung untuk memilih bis kota, atau memang 'keren' ilmu jauh lebih penting daripada 'keren' tentengan...

lagi-lagi pilihan..

|

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

indonesia

"Poetry is a way of taking life by the throat.." Robert Frost (1874-1963)